Your Ad Here

Cari by Google

21.6.09

Gizi Buruk

Gizi buruk, terutama di lima, masih merupakan masalah besar di Indonesia. Bahkan, kondisi dapat dicegah dengan, antara lain, sering membawa bayi ke posyandu harus direnungkan.

Hal ini dinyatakan oleh dr.Abidinsyah Siregar, Kepala Pusat Promosi Kesehatan Departemen Kesehatan RI, dalam sebuah seminar berjudul "Membangun Kemitraan untuk Generasi Berikutnya Anak Lebih Sehat Indonesia", di Jakarta, Rabu (17 / 6).

"Meskipun teknologi telah maju kesehatan, penimbangan bayi setiap lima menit dan satu-satunya cara untuk memonitor apakah berat badan anak sesuai dengan usia," kata Abidin. Dengan tinjauan rutin, gangguan anak-anak tumbuh lebih mudah dikenal.

Namun, 25,5 persen bayi di bawah lima di Indonesia dan tidak pernah ditimbang. Alasannya, selain jauh jarak ke posyandu, kurangnya pengetahuan modal, serta faktor-faktor budaya dan praktek. Akibatnya, banyak ditemukan sejumlah insiden gizi buruk dan gizi buruk.

Data tahun 2008, gizi buruk merupakan salah satu wabah paling mengancam kesehatan anak. Selain inert berat badan, kebiasaan merokok juga berdampak pada status gizi lima. Rokok masih menduduki pengeluaran rumah tangga kedua tertinggi di bawah toko beras, tetapi masih lebih besar daripada pengeluaran lauk pauk, pendidikan, dan kesehatan. "Bahkan, biaya untuk membeli rokok dapat dialihkan untuk membeli telur,"